Kata demi kata aku tulis, bersama kamu. Sekian lama harusnya kisah ini cukup kamu mengerti. Atau aku mestinya cukup pahami. Namun cinta tak pernah sederhana.
Pahit, iya.
Pena dengan tinta hitam kita ukir segaris demi segaris. Beberapa halaman penuh coretan karena amarah yang merana, atau kadang terciprat cemburu yang memburu. Lalu ada asa yang memburat diantara serpihan senyummu...
Semuanya tetap ter-lanjutkan, karena aku anggap hidup harus terus berlanjut. Dan cinta ini, adalah hidup. Setidaknya bagiku. Aku sudah meninggalkan halaman usang di belakang. Aku bertaut pada setangkai harapan sampai nyawa ini kuregang, kamu yang aku sayang. Setidaknya sampai rasa itu hilang. Entah terjadi atau tidak, namun asa tetap kutanam...
Aku mencintamu dengan terlanjur. Aku rela merebahkan jasad hingga terbujur. Kamu diam seribu bahasa, aku tak lelah merajut asa diantara duka...
Namun iya,,,ada duka dalam jalan kita, ada luka yang kutoreh dalam kata, hingga ternganga kau menahan rasa...semua berjalan seiring waktu yang terbuai diantara pekatnya malam...dan diantara teriknya siang..kulihat kau melepas segalanya...
Apa, apa ini?? Hidup yang berliku ini seakan tak ada ujung...tak pernah habis badai menerjang langkah kita, kisi kisi langit seakan jatuh tak berpayung, bumi panas meretak bak danau dimusim kemarau, kusut wajah muramnya hati..toh kita tetap sampai disini ...
Sesak sesal kadang terucap, kata hina kadang terdengar sayup sayup diantara caci maki, sudah biasa..menjadi celoteh camar penghibur di perjalanan kita...
Kini Bulan sabit ke dua bagi sepasang merpati didahan itu, yang menetas kan sepasang pengantin dalam sarangnya yang penuh kebahagiaan.. sarang diujung dahan yang kuharapkan kuat, kokoh dan terbuat dari rajutan kasih sayank, yang melindungi pengantin ramadhan itu dari panas, dari menusuknya udara dingin, dan dari intaian sang malaikat pencabut nyawa.....
Sayup kudengar seekor merpati meminta dan berkata padaku...”tolong tuliskan ini untuknya...” untuk siapa ??? “untuk ibu dari pengantinku disana...”
Sayank, maafkan aku.... maaf untuk semua yang terjadi, maaf untuk membawamu dalam hidupku, maaf untuk pertemuan itu, maaf untuk ijinku membawa pengantin ke hidup kita, maaf untuk waktu waktu yang terbuang karena kata kata kasar dan caci makiku, maaf untuk sebuah tamparan keras dipipimu, maaf untuk ceramah ceramah tololku kepadamu, maaf untuk tak menemani saat terbaringnya kamu, maaf untuk hal yang membuat pengantin kita seperti ini, maaf............maaf karena aku mencintaimu, dan membuat semua jadi seperti ini......maaf....
“cukup...aku tak sanggup lagi meminta maaf, sebab tak akan cukup lembaran yang kau punya untuk menulis kesalahanku..” lalu lirih hilang merdunya suara sang merpati tadi.....
Ah..aku tersentak karena kepakan sayapnya yang meluruhkan lamunanku... sudahkah kutulis semua kata katanya???? Sudahkah ???? apakah kamu mendengar sayup lirih suaranya tadi? Jika iya, katakan padaku agar kugoreskan lagi di ketas ini...
Ya ya, bodohnya aku...bercerita dan menggoreskan kata yang tak tentu arah tentang semua ini...lalu mungkin menjadi tak berarti... ini tentang aku dan kamu, bukan tentang sepasang merpati, lalu ................................................................................................................................................................................................................................kosong fikirku....
Lirih terucap dibibirku, kata kata yang sama seprti yang terucap dari sang merpati.... ya, kata “maafkan aku, dan bisakah kita pegang pena ini bersama, guratkan kisah kita lagi ? “