Sesaat sebelum malam

25 September 2014 | komentar

Kamu tau?? Senja seperti inilah yang namanya memiliki “kehampaan hati”, yang tak lagi malu malu datang menghampiri dan berbisik “kamu, adalah kesendirian yang tak kan berkesudahan, sebab hatimu tak lagi hidup, mati berdebu dan berkarat”.

Dan, ketika muadzin berlagu syahdu, ada kerinduan menyeruak tentang sejuknya satu senja “dengan cerobong cerobong asap” dan “nikmatnya hidangan kalbu dari syair sebuah kitab, alif lam mim”.

Ada goresan “asa” di batasan lembayung dan tebalnya awan di senja ini, tipis namun meyakinkan “bahwa itu adalah tujuan”, sempurna dengan segala “kehebatan, kerumitan, keanggunan sekaligus keangkuhannya” yang menjadikannya jalan terjalku  “mewujudkan asa itu”.

“ia” menari gemulai, meninggalkan sekilas bayangan di cakrawala, menutup sang mentari jingga, menghadirkan “malam”, membuatku rindu akan “senja senja” berikutnya, meski “ia” tak akan pernah jenuh berbisik “kamu, adalah kesendirian yang tak kan berkesudahan, sebab hatimu tak lagi hidup, mati berdebu dan berkarat”.

Sweet City, 25 September 2014

Mencari yang sempurna

17 September 2014 | komentar

Seorang pemuda yang hidup di Perth telah sampai usia saat ia merasa harus mencari pasangan hidup. Jadi ia mencari-cari gadis sempurna di seluruh negeri untuk dinikahi. Setelah berhari-hari, berminggu-minggu mencari, ia bertemu dengan gadis yang sangat cantik-jenis gadis yang bisa menghiasi sampul majalah perempuan bahkan tanpa make-up atau kosmetik!

Namun, meski dia kelihatan sempurna, pemuda itu tak bisa menikahinya. Sebab gadis itu tidak bisa masak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.

Lalu ia mencari lagi, selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan akhirnya ia menemukan gadis yang bahkan lebih cantik lagi, dan kali ini masakan gadis itu luar biasa lezat-lebih baik dari yang bisa Anda dapatkah di restoran terbaik di Australia, bahkan lebih baik dari yang bisa Anda dapatkan dari restoran keluarga. Gadis ini bahkan menjalankan usaha restorannya sendiri!

Namun pemuda ini tak bisa menikahinya pula. Sebab kekurangan gadis itu adalah dia bodoh. Dia tak bisa menjalin percakapan sama sekali, sama sekali tidak cerdas. Dia belum menamatkan pendidikan, segala yang ia tahu cuma memasak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.

Maka ia mencari selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga ia akhirnya menemukan gadis yang satu ini! Ia begitu cantik, masakannya melebihi restoran bintang lima, bahkan ia punya tiga restoran sendiri: ala Thai, ala Jepang dan ala Italia. Dan ia begitu cerdas, ia punya dua gelar doktor, pengetahuannya begitu luas, bisa menjalin percakapan begitu hebat, begitu baik, begitu welas asih. Ia sempurna!

Tapi, pemuda ini tak bisa menikahinya. Sebab gadis ini mencari pria yang sempurna!

 *Capture from another blog.

Inspirasi sebatang rumput (repost)

04 September 2014 | komentar

Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang dari sebuah masjid. Belum terlalu gelap tapi waktu maghrib telah tiba. Pelan, kulangkahkan kaki. Menyongsong panggilan Sang Khalik. Entah mengapa, orientasi saya selalu tak baik. Ketika sedang dilanda berbagai beban, mulai rajin kembali ke masjid untuk sholat berjamaah. Saat hidup dipenuhi beragam rejeki dan taburan kebahagiaan, sering lupa diri. Berkaca pada kondisi yang demikian saya selalu merasa berdosa. Tak adil memang saya. Tapi sudahlah, saya akan coba berdialog lagi dengan Allah.

Sampai di depan masjid…
Sekilas tak ada yang baru. Beberapa minggu lalu, memang halaman telah dipasang paving blok. Halaman yang semula berumput diganti dengan blok-blok, cor-coran pasir dan semen. Katanya untuk memudahkan parkir kendaraan. Juga, direncanakan untuk mengantisipasi jamaah yang membludak kelak saat ramadhan tiba. Setelah saya padang lagi, eh ternyata ada yang baru rupanya. Satu hal yang baru itu memang terlihat remeh, terlihat kecil, tapi justru memberikan inspirasi kepada saya. Ya, inspirasi sebatang rumput.

Sebenarnya, inspirasi itu datangnya setelah sholat. Saya merenung lebih dalam lagi. Halaman itu awalnya tumbuh rumput yang lebat, kemudian tertutup pasir dan paving blok. Jelas, rumput tak leluasa bisa tumbuh untuk beberapa hari, bahkan berminggu lamanya. Rupanya, rumputpun tak hanya diam begitu saja. Tetap ingin tumbuh. Ia mencari jalan keluar melalui sela-sela paving blok. Satu batang muncul, kemudian menyembul beberapa batang yang lain. Begitu seterusnya. Tadi saya melihat rumput-rumput itu sudah lumayan banyak tumbuh melalui sela-sela paving blok.

Melihat fenomena ini saya tertegun. Saya merenung.
Saya kembali bercermin pada diri saya. Sesuatu yang saya rasakan saat ini. Jujur, ada beban berat yang hari ini saya mesti pikul. Tak begitu penting sepertinya untuk diketahui publik. Hanya, saya sekedar ingin membagi perenungan tentang sebatang rumput yang terus tumbuh di halaman masjid itu dengan kondisi yang saya rasakan saat ini.
Rumput itu tentu punya masalah juga. Awalnya ia begitu leluasa tumbuh, mendapat siraman hujan dan sentuhan sinar mentari yang membuatnya bisa berkembang lebat di halaman masjid. Setelah tertimpa pasir dan paving blok masalah datang, kalau bisa menangis, rumput itu bisa jadi telah menangis. Tapi, mungkin hanya sebentar saja. Lantas, rumputpun tak hanya berdiam diri. Terus mencari jalan keluarnya hingga kemudian bisa menyembul kembali di sela-sela paving blok itu. Padat cerita, rumput itu telah berhasil mengatasi kesulitan dalam hidupnya. Telah bisa tumbuh kembali.
Lewat sebatang rumput inilah saya berkaca. Saya yakin, Allah tak akan menguji hambanya dengan cobaan yang tak bisa dilaluinya. Saya yakin semua masalah yang ada dan hadir dalam kehidupan saya pasti teratasi, pasti ada jalan keluarnya. Kuncinya, seperti rumput tadi, bisa menemukan celahnya, bisa menemukan titik terang jalan keluar yang mesti harus ditempuh. Sudah pasti, dengan kesabaran tentunya.

Inilah inspirasi dan pelajaran dari sebatang rumput. Saya punya beban, punya masalah. Dan saya yakin kita semua juga punya masalah. Tugas kita memang tidak lari dari masalah itu, tapi menghadapinya dengan jiwa tenang. Dengan usaha sekuat tenaga. Celah-celah untuk keluar dari masalah pasti ada. Dan, kita kelak pasti akan menemukan titik terangnya. Begitulah. Hari ini kita belajar kepada sebatang rumput untuk keluar dari beban masalah yang kita rasakan. Kita harus hadapi masalah dengan gagah, bukan justru lari dari kenyataan. Kalau ini yang terjadi, kita pantas malu pada sebatang rumput itu.

Source bye : unknown letter.

Ketika merpati meminta maaf

06 Januari 2014 | komentar

Kata demi kata aku tulis, bersama kamu. Sekian lama harusnya kisah ini cukup kamu mengerti. Atau aku mestinya cukup pahami. Namun cinta tak pernah sederhana.

Pahit, iya. Pena dengan tinta hitam kita ukir segaris demi segaris. Beberapa halaman penuh coretan karena amarah yang merana, atau kadang terciprat cemburu yang memburu. Lalu ada asa yang memburat diantara serpihan senyummu...

Semuanya tetap ter-lanjutkan, karena aku anggap hidup harus terus berlanjut. Dan cinta ini, adalah hidup. Setidaknya bagiku. Aku sudah meninggalkan halaman usang di belakang. Aku bertaut pada setangkai harapan sampai nyawa ini kuregang, kamu yang aku sayang. Setidaknya sampai rasa itu hilang. Entah terjadi atau tidak, namun asa tetap kutanam... Aku mencintamu dengan terlanjur. Aku rela merebahkan jasad hingga terbujur. Kamu diam seribu bahasa, aku tak lelah merajut asa diantara duka...

Namun iya,,,ada duka dalam jalan kita, ada luka yang kutoreh dalam kata, hingga ternganga kau menahan rasa...semua berjalan seiring waktu yang terbuai diantara pekatnya malam...dan diantara teriknya siang..kulihat kau melepas segalanya...

Apa, apa ini?? Hidup yang berliku ini seakan tak ada ujung...tak pernah habis badai menerjang langkah kita, kisi kisi langit seakan jatuh tak berpayung, bumi panas meretak bak danau dimusim kemarau, kusut wajah muramnya hati..toh kita tetap sampai disini ... Sesak sesal kadang terucap, kata hina kadang terdengar sayup sayup diantara caci maki, sudah biasa..menjadi celoteh camar penghibur di perjalanan kita...

Kini Bulan sabit ke dua bagi sepasang merpati didahan itu, yang menetas kan sepasang pengantin dalam sarangnya yang penuh kebahagiaan.. sarang diujung dahan yang kuharapkan kuat, kokoh dan terbuat dari rajutan kasih sayank, yang melindungi pengantin ramadhan itu dari panas, dari menusuknya udara dingin, dan dari intaian sang malaikat pencabut nyawa..... Sayup kudengar seekor merpati meminta dan berkata padaku...”tolong tuliskan ini untuknya...” untuk siapa ??? “untuk ibu dari pengantinku disana...” Sayank, maafkan aku.... maaf untuk semua yang terjadi, maaf untuk membawamu dalam hidupku, maaf untuk pertemuan itu, maaf untuk ijinku membawa pengantin ke hidup kita, maaf untuk waktu waktu yang terbuang karena kata kata kasar dan caci makiku, maaf untuk sebuah tamparan keras dipipimu, maaf untuk ceramah ceramah tololku kepadamu, maaf untuk tak menemani saat terbaringnya kamu, maaf untuk hal yang membuat pengantin kita seperti ini, maaf............maaf karena aku mencintaimu, dan membuat semua jadi seperti ini......maaf.... “cukup...aku tak sanggup lagi meminta maaf, sebab tak akan cukup lembaran yang kau punya untuk menulis kesalahanku..” lalu lirih hilang merdunya suara sang merpati tadi.....

Ah..aku tersentak karena kepakan sayapnya yang meluruhkan lamunanku... sudahkah kutulis semua kata katanya???? Sudahkah ???? apakah kamu mendengar sayup lirih suaranya tadi? Jika iya, katakan padaku agar kugoreskan lagi di ketas ini... Ya ya, bodohnya aku...bercerita dan menggoreskan kata yang tak tentu arah tentang semua ini...lalu mungkin menjadi tak berarti... ini tentang aku dan kamu, bukan tentang sepasang merpati, lalu ................................................................................................................................................................................................................................kosong fikirku.... Lirih terucap dibibirku, kata kata yang sama seprti yang terucap dari sang merpati.... ya, kata “maafkan aku, dan bisakah kita pegang pena ini bersama, guratkan kisah kita lagi ? “

Tanpa judul...

05 November 2012 | komentar

Waktunya sepi menggelayut hati, saatnya kerinduan menerkam senja di lubuk kalbu, aku yang mendamba dekapan hangat, secangkir kopi, sepucuk cigaretes dan rumah tempatku pulang....

Ah..Perjalanan panjang yang memang tiada berujung, naik turun, meratap merintih tertawa, lalu hilang dalam buaian malam..tak pernah lama mata terpejam, saat sayup asa menggoda, menari nari diujung mata....ingin sejenak, terlelap dalam mimpi terindah, sudah tak perlu lama,,,cukup 1000 tahun pejamkan mata, hingga hadir bayangan malaikat itu kembali jelas di pelupuk pikirku...

Cerita cangkir yang cantik...

01 September 2012 | komentar

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat cangkir itu,” kata si nenek kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum !”

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.

Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

————————————————–

teman….
seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Allah membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah.

from : motivasi.net

Melepaskan bukanlah akhir (sebuah renungan)

25 Agustus 2012 | komentar

Hidup ini selalu berputar, tak selamanya kita berada dibawah dengan semua kepedihan dan tak selamanya kita diatas dengan segala kesenangan. ALLAH Maha Adil .. Hanya Dia yang Tahu mana yang terbaik untuk hamba NYa ..

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak. ( Al-Baqarah 216 )”


Sahabatku, ada perih disudut hati, ketika engkau cerita tentang segala yg kau alami .. Setelah sekian lama kau bertahan Setelah sekian lama kau memendam luka Setelah sekian lama kau rendam nestapa rupanya Allah izinkan juga engkau tempuhi jalan itu Aku percaya, itu suatu “keputusan terakhir” yang terbaik untukmu…

Sahabatku, Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan. Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan …. Tetapi ada saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang bukan kerana orang itu berhenti mencintai kita melainkan kerana kita menyedari bahawa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.

  • Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kebahagiaan kita sangat bergantung pada orang itu.
  • Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita merasa dia itu kacak, cantik, teristimewa dibandingkan dengan yang lain.
  • Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita takut tidak dapat menemui yang seperti dia lagi.
  • Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika begitu banyak saat-saat indah bersamanya, sentiasa terbayang di benak kita.
  • Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika hati kita berkata “Saya sangat mencintainya”.


Ingatlah..
Melepaskan bukanlah berakhirnya melainkan awal dari suatu kehidupan baru…

  • Kita harus melepaskan seseorang kerana kebahagiaan kita tidak tergantung padanya.
  • Kita harus melepaskan seseorang kerana kita menyedari yang kacak,yang cantik, yang istimewa belum tentu yang terbaik buat kita.
  • Kita harus melepaskan seseorang kerana kita tahu jika Allah mengambil sesuatu, Dia telah siap memberi yang lebih baik.
  • Kita harus melepaskan seseorang ketika saat-saat indah hanyalah tinggal masa lalu.
  • Kita harus melepaskan seseorang kerana kepala kita berkata “tidak ada lagi yang dapat dipertahankan”.
  • Kegagalan tidak bererti kita tidak mencapai apa-apa, namun kita telah memahami sesuatu! Segala sesuatu ada waktunya, ada saat mempertahankan, ada saat melepaskan…!

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap” (QS.94:1-8)


Kadangkala Allah mempertemukan kita dengan orang yang tidak tepat sebelum mempertemukan kita dengan orang yang tepat supaya kita bersyukur akan belajar daripada kurniaNYA dan belajar daripadanya …

Disadur dari rangkaian Pendi Ari Wibowo



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BlueMery - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger