Sesaat sebelum malam

25 September 2014 | komentar

Kamu tau?? Senja seperti inilah yang namanya memiliki “kehampaan hati”, yang tak lagi malu malu datang menghampiri dan berbisik “kamu, adalah kesendirian yang tak kan berkesudahan, sebab hatimu tak lagi hidup, mati berdebu dan berkarat”.

Dan, ketika muadzin berlagu syahdu, ada kerinduan menyeruak tentang sejuknya satu senja “dengan cerobong cerobong asap” dan “nikmatnya hidangan kalbu dari syair sebuah kitab, alif lam mim”.

Ada goresan “asa” di batasan lembayung dan tebalnya awan di senja ini, tipis namun meyakinkan “bahwa itu adalah tujuan”, sempurna dengan segala “kehebatan, kerumitan, keanggunan sekaligus keangkuhannya” yang menjadikannya jalan terjalku  “mewujudkan asa itu”.

“ia” menari gemulai, meninggalkan sekilas bayangan di cakrawala, menutup sang mentari jingga, menghadirkan “malam”, membuatku rindu akan “senja senja” berikutnya, meski “ia” tak akan pernah jenuh berbisik “kamu, adalah kesendirian yang tak kan berkesudahan, sebab hatimu tak lagi hidup, mati berdebu dan berkarat”.

Sweet City, 25 September 2014
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BlueMery - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger